Home » Artikel » Kultur Perubahan Sekolah

 
 

Kultur Perubahan Sekolah

 

 

HMPS Prodi PGSD FKIP UAD Meriahkan Pekan Muharram 1439 H

HMPS Prodi PGSD FKIP UAD Meriahkan Pekan Muharram 1439 H

(Foto. Dok HMPS Prodi PGSD FKIP UAD) Prodi PGSD FKIP UAD diwakili HMPS mengikuti Pekan Muharram 1439 H yang diselenggarakan PRM Nitikan Yogyakarta, Kamis (21/09/2017)....

 
Futsal Putra PGSD UAD Juara 1 Turnamen FMIPA Kimia UNY

Futsal Putra PGSD UAD Juara 1 Turnamen FMIPA Kimia UNY

Tim Futsal Putra PGSD UAD berhasil meraih juara 1 dalam turnamen Chemistry Futsal Competition (CFC) 2017 untuk Katagori Umum Universitas sederajat. Turnamen ini...

 
Workshop Penyusunan Skripsi dan Sosialisasi Plagiarisme Bagi Mahasiswa Semester 7 Prodi PGSD FKIP UAD

Workshop Penyusunan Skripsi dan Sosialisasi Plagiarisme Bagi Mahasiswa Semester 7 Prodi PGSD FKIP UAD

Dra. Sri Tutur Martaningsih, M.Pd memberikan materi teknis penulisan skripsi. (Foto. Dok PGSD) Minggu (10/09/2017) Prodi PGSD FKIP UAD mengadakan Workshop Penyusunan...

 
 

Oleh: Hendro Widodo, M. Pd
Dosen PGSD FKIP UAD

Kebijakan yang amat penting dalam perbaikan mutu pendidikan adalah mengembangkan kultur sekolah. Perbaikan dan peningkatan mutu sekolah memerlukan perubahan kultur, baik perubahan pada perilaku maupun perubahan cara pandang (mind setting) warga sekolah. Perubahan cara pandang akan mempengaruhi perubahan tentang berbagai nilai-nilai di sekolah yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi terhadap perubahan perilaku warga sekolah.

Komponen warga sekolah (kepala sekolah, guru, karyawan sekolah, siswa maupun orang tua siswa) dipandang sebagai komponen perubahan yang paling sulit karena seringkali perubahan yang paling mendasar berkaitan dengan cara pandang dalam melihat perubahan kultur yang diinginkan. Perbedaan cara pandang ini dan kesalahpahaman dalam memahami maksud dari perubahan terkadang menyebabkan keengganan warga sekolah mengubah perilaku yang sudah mapan sehingga yang muncul adalah penolakan terhadap perubahan itu sendiri. Oleh karena itu diperlukan kesadaran, kemauan dan komitmen bersama dari warga sekolah dalam melakukan perubahan.

Ada dua hal penting yang diperlukan warga sekolah khususnya guru dan karyawan dalam perubahan kultur sekolah untuk menghasilkan mutu (Edward Sallis, 2010). Pertama, guru dan karyawan membutuhkan sebuah lingkungan yang cocok untuk bekerja. Mereka membutuhkan alat-alat keterampilan dan harus bekerja dengan sistem dan prosedur yang sederhana untuk membantu pekerjaan mereka. Lingkungan yang mengelilingi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kemampuan mereka dalam mengerjakan pekerjaannya secara tepat dan efektif. Di antara ciri-ciri lingkungan yang membantu tersebut adalah sistem dan prosedur dalam sekolah memotivasi dan meningkatkan kerja mereka.

Prosedur yang baik dan memotivatif memang tidak serta merta akan menghasilkan mutu, namun prosedur yang tidak baik dan salah-asuh justru akan membuat mutu sekolah menjadi sulit dicapai. Kedua, untuk melakukan pekerjaan dengan baik, guru dan karyawan memerlukan lingkungan yang mendukung dan menghargai kesuksesan dan prestasi yang mereka raih. Mereka memerlukan pemimpin yang dapat menghargai prestasi mereka dan membimbing mereka untuk meraih sukses yang lebih besar. Motivasi untuk melakukan pekerjaan yang baik adalah hasil dari sebuah gaya kepemimpinan dan dari atmosfir lingkungan yang dapat meningkatkan kepercayaan diri serta memberdayakan setiap indvidu di dalamnya.

Lingkungan kerja yang mendukung dan pimipinan sekolah yang baik memiliki peranan yang besar dalam melakukan perubahan kultur sekolah. Kultur sekolah yang berbasis mutu tidak datang dengan sendiri melainkan harus diciptakan. Pengembangan kultur sekolah yang dapat meningkatkat mutu sekolah dirancang melalui program sekolah. Program tersebut dibangun oleh kepala sekolah, guru, karyawan, siswa dan orang tua siswa. Artinya, kultur sekolah memiliki karakteristik berupa kolegalitas dan bersifat bottom-up bahwa seyogyanya dibangun atas kesadaran dan kehendak dari warga sekolah sehingga merupakan suatu kesepakatan bersama dan komitmen luas di sekolah, menjadi jati diri dan kepribadian sekolah.(*)

Comments are closed

Sorry, but you cannot leave a comment for this post.